Kita, manusia seringkali terjebak dalam perasaan sedih, kecewa bahkan putus asa..
Sebuah rasa yang sesungguhnya tidak perlu berlama-lama hadir dalam diri seorang muslim..
Mengapa sebab?
Sebab kita mempunyai sesuatu yang telah meng-cover segala keluh kesah.
Bahkan di saat kita belum membutuhkannya.
Apa itu?
Rabb. Rabbul Izzati.
Terkadang memang kita yang tidak ingin meninggalkan zona keluh kesah.
Zona kepedihan. Zona kekecewaan.
Kita yang memang merasa 'nyaman' berada disana.
Menangisi sepanjang waktu. Menyesali sepanjang masa.
Untuk apa? Untuk kepuasan batin kita.
Untuk sekedar kesombongan kita.
Sombong? Ya!
Kita terrlalu sombong untuk sekedar meminta kepadaNYA agar Ia membebaskan kita dari rasa itu.
Dan menggantikannya dengan yang lebih baik..
..
Senin, 18 Februari 2013
Jumat, 15 Februari 2013
"Ketahuilah, jika jiwamu telah terpenuhi kebutuhannya, maka ia akan tenang.." (Salman Al Farisi)
"Sesungguhnya amal perbuatan yang paling sulit dilakukan ada 4macam. Pertama, memaafkan ketika sedang marah. Kedua, dermawan ketika kita sedang membutuhkannya. Ketiga, menjaga kehormatan diri ketika sedang sendiri. Keempat, berkata benar kepada orang yang ditakuti (pemimpin) atau orang yang diharapkan (bantuaannya)." (Ali bin Abi Thalib)
"Sesungguhnya amal perbuatan yang paling sulit dilakukan ada 4macam. Pertama, memaafkan ketika sedang marah. Kedua, dermawan ketika kita sedang membutuhkannya. Ketiga, menjaga kehormatan diri ketika sedang sendiri. Keempat, berkata benar kepada orang yang ditakuti (pemimpin) atau orang yang diharapkan (bantuaannya)." (Ali bin Abi Thalib)
'Pulang'
Bila di hati masih ada iman, selalu ada hasrat untuk pulang.
Bila di hati masih ada iman, selalu ada peluang untuk bisa pulang.
Begitulah seorang mukmin dalam mengisi hari-harinya Saat berjalan ke arah yang benar, kadang ia tergoda dan menyimpang ke arah yang salah.
Iman itulah yang menahan dirinya untuk tidak terjerumus ke dalam dosa.
Ia selalu berniat untuk kembali.. 'Pulang' dan bertaubat sebelum melakukan kekeliruan..
Agar Tidak Terlambat 'Pulang'..
Pelihara Konsistensi kedekatan pada Kebaikan.
-Terus menjaga niat baik, meningkatkan keyakinan terhadap apa yang dilakukan, mempertajam mutu keahlian, amal dan kerja..
Menyadari Peran yang di Sandang.
-Seringkali kita kurang ikhlas dan bersungguh2 menjalani peran2 yang kita sandang.Terkadang kita bersikap sekedarnya. Sekedar menjadi pemimpin, sekedar menjadi orang tua, sekedar menjadi suami/istri, sekedar menjadi guru, dls.
Berhenti dari Angan-angan Berkepanjangan.
-"Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat lekat dihatinya dalam 4 keadaan, diantaranya angan-angan yang tak ada ujungnya.." (Umar bin Khattab ra)
Menghitung diri
.-"Perjalanan panjang hanya bisa ditempuh dalam keseriusan dan berjalan diwaktu malam. Jika seorang musafir menyimpang dari jalan, dan menghabiskan waktu malamnya untuk tidur, kapan ia akan sampai ke tujuan?" (Ibnu Qoyyim)
"Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan selama ia masih bisa menasehati dirinya sendiri dan selalu memelihara untuk menhitung2 dirinya sendiri." (Hasan Al Basri)
..
Bila di hati masih ada iman, selalu ada peluang untuk bisa pulang.
Begitulah seorang mukmin dalam mengisi hari-harinya Saat berjalan ke arah yang benar, kadang ia tergoda dan menyimpang ke arah yang salah.
Iman itulah yang menahan dirinya untuk tidak terjerumus ke dalam dosa.
Ia selalu berniat untuk kembali.. 'Pulang' dan bertaubat sebelum melakukan kekeliruan..
Agar Tidak Terlambat 'Pulang'..
Pelihara Konsistensi kedekatan pada Kebaikan.
-Terus menjaga niat baik, meningkatkan keyakinan terhadap apa yang dilakukan, mempertajam mutu keahlian, amal dan kerja..
Menyadari Peran yang di Sandang.
-Seringkali kita kurang ikhlas dan bersungguh2 menjalani peran2 yang kita sandang.Terkadang kita bersikap sekedarnya. Sekedar menjadi pemimpin, sekedar menjadi orang tua, sekedar menjadi suami/istri, sekedar menjadi guru, dls.
Berhenti dari Angan-angan Berkepanjangan.
-"Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat lekat dihatinya dalam 4 keadaan, diantaranya angan-angan yang tak ada ujungnya.." (Umar bin Khattab ra)
Menghitung diri
.-"Perjalanan panjang hanya bisa ditempuh dalam keseriusan dan berjalan diwaktu malam. Jika seorang musafir menyimpang dari jalan, dan menghabiskan waktu malamnya untuk tidur, kapan ia akan sampai ke tujuan?" (Ibnu Qoyyim)
"Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan selama ia masih bisa menasehati dirinya sendiri dan selalu memelihara untuk menhitung2 dirinya sendiri." (Hasan Al Basri)
..
Jumat, 08 Februari 2013
Bukan
kekayaan itu yg mengusik hatiku.. atau keinginan untuk mengetahui
darimana mendapatkannya. Tapi cukup dengan mengetahuikeSHOLIHan seorang pemimpin
yang membuat kami yakin bahwa mereka itu adalah orang-orang yg tetap
istiqomah, zuhud, amanah, dan tinggi rasa KHAUFnya thd ALLAH AWJ..
Bukankah RasuluLlaah SAW justru menjadikan kesholihan para sahabat utk berlomba dalam kebaikan? sebagaimana Umar dan Abu bakar..
Suatu ketika, usai mengimami shalat subuh, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang berpuasa hari ini?"
Umar menjawab, "Semalam aku tak berniat berpuasa. Jadi hari ini aku tidak berpuasa."
Sementara Abu Bakar menjawab, "Aku berpuasa, Rasulullah. Aku sudah berniat sejak semalam."
Rasulullah bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?"
Umar menjawab, "Aku di sini terus sejak kita melaksanakan shalat. Bagaimana aku menjenguk orang sakit?"
Sedangkan Abu Bakar menjawab, "Semalam aku mendengar Abdurrahman bin Auf sedang sakit. Untuk itu, sebelum datang ke masjid ini aku menyempatkan diri menjenguknya."
Rasulullah bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang hari ini sudah bersedekah?"
Umar menjawab, "Hari ini aku belum kemana-mana."
Sedangkan Abu Bakar menjawab, "Sebelum sampai di sini, aku tadi melihat pengemis. Kebetulan anakku membawa roti. Kuminta roti itu untuk kuberikan kepada pengemis itu."
Rasulullah kemudian berkata, "Berbahagialah Kau, Abu Bakar. Kau mendapatkan surga."
Umar menghela nafas seraya berkata, "Betapa indahnya surga."
Rasulullah tersenyum melihat Umar tampak kecewa karena tidak bisa berbuat kebaikan sebagaimana Abu Bakar. Rasulullah segera membesarkan hati Umar.
"Semoga Allah menyayangi Umar... Semoga Allah menyayangi Umar, meski segala kebaikan-kebaikan yang diinginkannya telah didahului Abu Bakar." kata Rasulullah.
Dalam kisah lain, suatu ketika Rasulullah memerintahkan kepada paa sahabatnya untuk menyedekahkan hartanya. Kali ini Umar bersedekah dalam jumlah banyak. Umar berpikir, jumlah itu pasti melebih jumlah yang akan disedekahkan Abu Bakar.
"Kau tidak menyisakan hartamu untuk keluarga?" tanya Rasulullah.
"Sudah," jawab Umar. "Aku sudah menyisakannya."
Giliran Abu Bakar. Abu Bakar pun ternyata bersedekah dalam jumlah yang tak kalah banyak. Rasulullah bertanya hal yang sama: apakah ia tidak menyisakan hartanya untuk keluarga?
Abu Bakar menjawab, "Untuk mereka aku menyisakan Allah dan Rasulullah."
Umar tampak merasa 'kalah'. "Sepertinya aku memang tidak akan pernah bisa unggul darimu dalam hal kebaikan sedikit pun." kata Umar kepada Abu Bakar.
Bukankah RasuluLlaah SAW justru menjadikan kesholihan para sahabat utk berlomba dalam kebaikan? sebagaimana Umar dan Abu bakar..
Suatu ketika, usai mengimami shalat subuh, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang berpuasa hari ini?"
Umar menjawab, "Semalam aku tak berniat berpuasa. Jadi hari ini aku tidak berpuasa."
Sementara Abu Bakar menjawab, "Aku berpuasa, Rasulullah. Aku sudah berniat sejak semalam."
Rasulullah bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?"
Umar menjawab, "Aku di sini terus sejak kita melaksanakan shalat. Bagaimana aku menjenguk orang sakit?"
Sedangkan Abu Bakar menjawab, "Semalam aku mendengar Abdurrahman bin Auf sedang sakit. Untuk itu, sebelum datang ke masjid ini aku menyempatkan diri menjenguknya."
Rasulullah bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang hari ini sudah bersedekah?"
Umar menjawab, "Hari ini aku belum kemana-mana."
Sedangkan Abu Bakar menjawab, "Sebelum sampai di sini, aku tadi melihat pengemis. Kebetulan anakku membawa roti. Kuminta roti itu untuk kuberikan kepada pengemis itu."
Rasulullah kemudian berkata, "Berbahagialah Kau, Abu Bakar. Kau mendapatkan surga."
Umar menghela nafas seraya berkata, "Betapa indahnya surga."
Rasulullah tersenyum melihat Umar tampak kecewa karena tidak bisa berbuat kebaikan sebagaimana Abu Bakar. Rasulullah segera membesarkan hati Umar.
"Semoga Allah menyayangi Umar... Semoga Allah menyayangi Umar, meski segala kebaikan-kebaikan yang diinginkannya telah didahului Abu Bakar." kata Rasulullah.
Dalam kisah lain, suatu ketika Rasulullah memerintahkan kepada paa sahabatnya untuk menyedekahkan hartanya. Kali ini Umar bersedekah dalam jumlah banyak. Umar berpikir, jumlah itu pasti melebih jumlah yang akan disedekahkan Abu Bakar.
"Kau tidak menyisakan hartamu untuk keluarga?" tanya Rasulullah.
"Sudah," jawab Umar. "Aku sudah menyisakannya."
Giliran Abu Bakar. Abu Bakar pun ternyata bersedekah dalam jumlah yang tak kalah banyak. Rasulullah bertanya hal yang sama: apakah ia tidak menyisakan hartanya untuk keluarga?
Abu Bakar menjawab, "Untuk mereka aku menyisakan Allah dan Rasulullah."
Umar tampak merasa 'kalah'. "Sepertinya aku memang tidak akan pernah bisa unggul darimu dalam hal kebaikan sedikit pun." kata Umar kepada Abu Bakar.
Senin, 04 Februari 2013
Tentang kezuhudan RasuluLlaah dan para sahabatnya di zaman itu..
Bagaimana mereka dengan kesedarhanaannya tanpa tampak gurat penderitaan..
Bagaimana bisa mereka memahami begitu banyak problematika ummat saat itu..
Kedekatan mereka pada ALLAH AWJ yang membuat mereka tetap berkharisma hingga akhir hayat mereka..
Ya.
Keikhlasan mereka yang membuat kita nyaman membicarakannya walaupun masa merentangkan jarak kami.
Kecintaan mereka yang menenangkan yang membuat kami jatuh cinta walau masa membuat kami sesak akan rindu.
Ya.
Kami merindukan tutur bijak dari seorang pemimpin.
Tutur yang membuat kami merasa dicintai.
...
Bagaimana mereka dengan kesedarhanaannya tanpa tampak gurat penderitaan..
Bagaimana bisa mereka memahami begitu banyak problematika ummat saat itu..
Kedekatan mereka pada ALLAH AWJ yang membuat mereka tetap berkharisma hingga akhir hayat mereka..
Ya.
Keikhlasan mereka yang membuat kita nyaman membicarakannya walaupun masa merentangkan jarak kami.
Kecintaan mereka yang menenangkan yang membuat kami jatuh cinta walau masa membuat kami sesak akan rindu.
Ya.
Kami merindukan tutur bijak dari seorang pemimpin.
Tutur yang membuat kami merasa dicintai.
...
Langganan:
Postingan (Atom)